Rencana Pembangunan

KONSEP PEMBANGUNAN

Konsep pembangunan Kebun Raya ITERA didasarkan pada Peraturan Presiden Nomor 93 tahun 2011 tentang Kebun Raya yang diadaptasikan dengan kondisi lingkungan dan sosial budaya masyarakat setempat. Kebun Raya ITERA diharapkan menjadi kawasan konservasi ex situ yang memiliki koleksi tumbuhan yang terdokumentasi yang ditata berdasarkan pola klasifikasi taksonomi, tematik atau bioregion atau kombinasi dari pola-pola tersebut untuk tujuan konservasi, penelitian, pendidikan, wisata dan jasa lingkungan.

Konsep Arsitektur Dan Struktur Bangunan Arsitektur bangunan pada Kebun Raya ITERA akan mengacu pada konsep smart building dan green campus technology yang dipadukan dengan kearifan lokal yang diadopsi dari prinsip dan nilai-nilai arsitektur tradisional dari seluruh penjuru Sumatera. Nilai-nilai kearifan lokal ini harus diadaptasikan dengan kondisi iklim dan geografi setempat, serta kebutuhan pengguna. Konsep smart building ini akan diimplementasikan dengan cara menerapkan pendekatan yang ramah lingkungan, mengutamakan efisiensi energi, air, serta perintisan penggunaan sumber daya yang bersih dan terbarukan. Adapun nilai-nilai arsitektur tradisional akan diimplementasikan pada konsep zonasi, tata ruang, hingga detail-detail eksterior bangunan; sehingga dapat mencerminkan kearifan lokal dari berbagai penjuru kawasan Sumatera. Konsep struktur bangunan penunjang pada Kebun Raya ITERA terinspirasi dari bentukan sistem rangka dan rumah panggung dari rumah-rumah tradisional di Sumatera. Konsep tersebut akan digunakan pada struktur atas dan bawah bangunan. Sistem konstruksi yang digunakan akan menggunakan konstruksi beton bertulang yang tahan gempa, sesuai dengan standar SNI 03-6821-2002. Penentuan ini didasarkan atas aspek fungsional, kemudahan pelaksanaan, ekonomi, kekuatan dan stabilitas struktur, serta kemampuan untuk mengakomodasi pengguna bangunan.

Pemilihan jenis struktur pondasi harus mempertimbangkan beberapa hal, yaitu: keadaan tanah pondasi yang meliputi jenis tanah, daya dukung lahan, kedalaman lapisan tanah keras, batasan-batasanakibat struktur di atasnya, batasan-batasan keadaan lingkungan di sekitarnya, biaya dan waktu pelaksanaan pekerjaan. Secara umum jenis struktur pondasi dibagi dalam 2 jenis, yaitu: 1. Pondasi Dangkal Pondasi dangkal yaitu pondasi yang dasarnya (sisi bawahnya) terletak tidak terlalu dalam dari permukaan tanah asli. Pelaksanaan pondasi dangkal dapat dikerjakan dengan alat sederhana oleh tenaga manusia. Berdasarkan bentuknya, terdapat 4 macam pondasi dangkal, yaitu: (1) pondasi menerus, (2) pondasi setempat, (3) pondasi gabungan dan (4) pondasi plat. 2. Pondasi Dalam Pondasi dalam yaitu pondasi yang biasanya digunakan jika tanah keras berada pada kedalaman lebih dari 6 m dari muka tanah asli. Pondasi dalam terdiri atas 2 macam, yaitu: a. Pondasi Tiang Pancang (Drived Pile) Bahan: kayu, baja dan beton (bertulang, prategang). Tiang dibuat dahulu di atas tanah, kemudian dimasukkan ke dalam tanah dengan dipancang. Bagian atas tiang dirangkai menjadi satu dengan plat yang disebut dengan kepala tiang. Plat ini akan menjadi tumpuan kolom dan berfungsi untuk meneruskan beban kolom ke tiang-tiang di bawahnya. b. Pondasi Tiang Bor (Bored Pile, In Situ Pile) Pada pondasi tiang bor, lubang pondasi dibuat menggunakan mesin bor, kemudian dituangi beton (jika perlu diberikan perkuatan baja tulangan).

 Konsep Pengembangan Infrastruktur Konsep pengembangan infrastruktur yang meliputi sarana, prasarana, dan utilitas kawasan harus memperhatikan beberapa hal, yaitu: (1) Kelayakan secara kualitas dan kuantitas dalam melayani kebutuhan pengguna secara efisien dan aman (2) Terintegrasi dengan sistem infrastruktur kawasan kompleks ITERA dan tata lanskap berdasarkan zonasi yang sudah direncanakan ataupun yang sudah terbangun (eksisting). Fasilitas infrastruktur pendukung yang perlu dikembangkan adalah sebagai berikut:

 1. Transportasi: a. Jalan Pengembangan akan disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi yang ada, penentuan fungsi dan lebar jalan sesuai dengan penentuan fungsi jalan di wilayah perkotaan No. 10/T/BNKT/1990 Dirjen Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum. Cara menentukan tebal lapis perkerasan lentur sesuai dengan SNI 03-1732-1989 Tata Cara Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya dengan Analisis Metode Komponen. b. Jembatan Perencanaan jembatan difungsikan sebagai sarana transportasi kendaraan dan pejalan kaki sesuai dengan panduan teknis jembatan yang berlaku.

 2. Air dan Air Limbah a. Suplai Air Sarana air bersih akan memanfaatkan layanan PDAM setempat, air danau/embung pada kawasan dan air sumur dalam. Suplai air dari sumber PDAM dengan men-tapping dari jaringan pipa PDAM dan kemudian dialirkan ke reservoar air bersih. Suplai air dari sumber air danau/embung dan sumur dalam dengan cara menampung air tersebut dalam bak penampungan dan dialirkan pada penampungan utama yang berada pada satu lokasi dengan Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang berfungsi untuk mengolah air embung dan sumur dalam menjadi air bersih. Air bersih tersebut kemudian ditampung dalam reservoar sebelum didistribusikan ke daerah pelayanan. Adapun fungsi utama reservoar adalahsebagai penyimpan persediaan air bersih dan penambahan tekanan air pada titik-titik pengambilan. b. Distribusi Air Penyiraman Sumber air penyiraman memanfaatkan air embung/danau pada kawasan tapak yang dialirkan secara gravitasi sesuai kondisi topografi dan menempatkan titik-titik sumber air untuk penyiraman. c. Drainase/Air Limbah Drainase di kawasan Kebun Raya ITERA direncanakan dengan mempertimbangkan beberapa hal, yaitu: (1) Pemanfaatan alur topografi sebagai alur utama pembuangan air hujan dan sistem drainase (2) Sistem drainase menggunakan konsep zero-runoff, yakni sistem pembuangan air hujan dan drainase tidak dialirkan keluar tapak, melainkan tetap diresapkan di dalam area tapak (3) Sistem drainase akan menggunakan sumur-sumur resapan sampai lapisan tanah yang mempunyai daya serap tinggi (4) Arah dan sudut kemiringan saluran mengikuti pola jaringan dan arah kemiringan jalan yang direncanakan (5) Pengelolaan air limbah akan menggunakan septic tank yang dilengkapi dengan jaringan pipa air limbah, manhole, drop manhole, sump pit yang memadai di setiap bangunan.

 3. Pengelolaan Sampah Sampah dari kawasan Kebun Raya ITERA akan dipilah menjadi sampah organik dan anorganik. Sampah organik akan diolah menjadi kompos untuk menyuplai kebutuhan pupuk kompos di lingkungan kebun raya.

 4. Listrik dan Komunikasi Instalasi listrik disesuaikan dengan kondisi instalasi listrik eksisting pada kawasan dan kebutuhan operasional Kebun Raya. Instalasi listrik mengacu pada standar SNI 04-0225-1987 tentang Persyaratan Umum Instalasi Listrik 1987. Perancangan kebutuhan sarana dan prasarana telekomunikasi, yakni penyediaan fasilitas telepon, komputer, dan jaringan internet harus mengacu pada ketentuan yang berlaku.